Kamis, 31 Juli 2014

Tukang Korek, Isyarat, dan Kebisuan


Bukan untuk mengina, pak tua. Aku cuma tak bakat gambar.
Sudah pasti, remaja, nona-nona, dan manusia lainnya menikmati libur lebaran mereka. Walhasil, jalanan amat macet. Motor yang kupacu hanya beranjak beberapa inci saja dalam lima atau sepuluh detik. Bagaimana lagi, demi menyambangi sahabatku, Linggar namanya, jalanan yang sesak dan terik santai saja kulalui. Tapi bukan tentang Linggar dan kemacetan dalam karangan 5.600 karakter yang kutulis ini.

Senin, 30 Juni 2014

Bukannya Tak Suka Marawis dan Qasidah


Aku bukannya tak suka mendengar tetabuhan dari pesantren sebelah. Mereka tengah berupaya meningkatkan spiritualitas dirinya melalui musik. Puji-pujian terhadap Rasul kian dilantunkan dengan diiringi musik sejenis marawis dan qasidah. Sama seperti manusia yang gemar menapaki lembah pegunungan, menyelam jauh ke dasar samudera, dan berada di atap puncak gunung tertinggi seperti Mahameru dan Ciremai. Sebagian dari mereka merasa dekat dan semakin mengenal Tuhannya. 


Rabu, 19 Februari 2014

REVIEW FILM “ALL THE PRESIDENTS MEN”



 Sinopsis
Film ini bermula dari kasus spionase, pencurian, dan penyadapan di salah satu markas milik Partai Nasional Demokrat, Watergate. Kemudian dua orang jurnalis The Washington Post mencoba untuk menguak kasus yang mereka anggap penuh konspirasi. Dua jurnalis tersebut yakni Bob Woodwart dan Carl Bernstein.
Kejanggalan kasus Watergate berawal dari persidangan lima orang terdakwa. Woodwart, yang kala itu hadir dalam persidangan mendengar bahwa salah satu terdakwa yang bernama James Mc. Cord adalah pensiunan konsultan keamanan CIA.

Kamis, 06 Juni 2013

Pemburu Honor Seminar


“Prok, prok, prok, prok, prok.” Bunyi tepuk tangan itu nyaring terdengar. Tertuju pada lelaki paruh baya berperawakan gemuk berkulit gelap. Aku sebut ia sebagai orang di balik koran nomor 1 di Jawa Barat. Harian ini ia sulap sampai masuk peringkat 5 besar koran dengan tata bahasa yang baik dan benar se-Indonesia, Budhiyana namanya. Ia jadi pembicara terakhir workshop yang diselenggarakan Dewan Pers di Hotel Goldel Flowers kala itu.

Aku tak mau buang peluang. “Rama, kasih tabloid kita ke Budhiyana,” tuturku pada seorang admin twitter liverpulian Uin Bandung. Dengan sigap, Rama menghampiri Budhiyana. Mereka pun berfoto bersama dengan senyum yang menyeringai sambil memamerkan Tabloid Suaka pada lensa kamera. Seusai berfoto, Rama tampak girang seraya berkata kepadaku, “Anjir, urang meunang momen bray.” Agaknya, ia jarang bertemu tokoh besar di sepanjang hidupnya.

Minggu, 28 April 2013

Saudara Bantai Saudara

    Tangis huru-hara agaknya tak pernah kering. Para mahasiswa yang baku hantam dengan aparat makin mencekam di jantung negeri. Bahkan dengan sesama pelajar yang menyandang predikat “maha.” Aduh, mesti darimana kita menjawab pertanyaan amat pelik tentang orang kita? Bahkan, Di Timur nusantara jua terjadi, orang-orang ribut-ribut soal tapal batas pedesaan.

    Di pagi buta, aku disambut miris begitu baca surat kabar. Terjadi di Indonesia Timur. Seperti yang kutulis diatas, warga desa Bikomi, NTT, pasang patok batas desa sembarang. Lantas warga desa Oe-Talus (Desa yang bersebalahan dengan Bikomi) jelas tak terima. Amarah membuncah, lalu saling hajar. Pukul ya balas pukul. Dendam memicu tragedi kian parah, hewan ternak milik warga Oe-Talus kena sabet sampai mati. Untung saja hanya hewan ternak yang mati. Bagaimana jika nanti leher orang yang kena sabet? Bukan pukul dibalas pukul, pasti darah dibalas darah.

Perayaan itu Berujung Sasar

     Dentuman drum bertabuh riuh berpusar di Auditorium utama Kampus Islam Negeri di Timur Bandung. Alunan musik keras itu menarik hasrat insani, ramai berkeliling di seputar. Muda-mudi hilir mudik bersilang lengan dengan pujaannya, saling memegang pinggul satu sama lain. Muda-mudi yang berhiaskan khas, khas dengan citarasa gahar.

    Biasanya, kala musik menggema, sekeliling dan di hadapan panggung, manusia serupa kesetanan dan saling beradu badan, saling sikut dan saling hantam. Kawula muda mengumbar eksistensi tanpa esensi. Gandrung musik kini bercampur mabuk, kaum hawa, mulus paha wanita tak berkain, kemudian  lalu-lalang berujung sasar.  Tanpa arah.